Sore itu saya utarakan keinginan kepada suami bahwa saya ingin makan kue Strudel rasa pisang coklat milik sang artis ibukota. Tak lama kamipun bersiap dan segera pergi ke gerai Strudel yang tak jauh dari kos.
Kue yang dimaksud sudah dibeli, rencana selanjutnya adalah melanjutkan perjalanan ke salah satu mall. Namun di tengah perjalanan saya merasa perut saya nyeri haid. Saya baru sadar bahwa hari itu memang jadwalnya tamu bulanan datang. Niat jalan jalan pun kami rubah dan akhirnya kami pun kembali ke kos.
Di perjalanan kembali ke kos itu sejujurnya hati saya kecewa. -Ya Allah sudah 8 bulan kami menikah, sudah telat menstruasi beberapa kali tapi nyatanya kami belum memiliki keturunan. Apakah ada yang salah dengan kesuburan kami? Atau sengaja Engkau tunda? Atau seperti apa?-
Sesampainya di kos saya ganti pembalut. Namun saya hanya melihat flek warna coklat bukan noda darah. Keadaan ini berlangsung selama beberapa hari. Sempat terbersit pikiran untuk membeli test pack namun saya urungkan. Saya masih trauma dengan rasa kecewa yang saya rasakan ketika sudah melakukan tes namun hasilnya negatif.
Minggu berikutnya saya memberanikan diri untuk datang ke dokter obgyn untuk memastikan apakah saya hamil atau tidak. Karena saat itu menstruasi sudah terlambat datang selama satu minggu.
Sebelum pemeriksaan, saya sudah menguatkan hati untuk bisa menerima jika ternyata rahim saya masih kosong. Dan sesuai dugaan, saat USG tidak terlihat kantong kehamilan di rahim saya.
“Ini kantong kehamilannya ngga terlihat Bu. Bisa jadi memang tidak ada atau ada namun masih terlalu kecil jadi ngga terlihat. Ibu sudah berapa lama terlambat menstruasi?” tanya dr. Bambang. Salah satu obgyn di RS Melati Husada.
“Baru satu minggu sih Dok.”
“Hasil pemeriksaan urinnya gimana?”
“Ngga berani test pack Dok. Dulu sudah pernah tapi hasilnya negatif jadinya nangis. Sekarang trauma deh hehehee”
“Loohh ya harus test pack dulu baru cek USG. Orang hamil ketahuannya yang paling cepet di hormonnya. Kalo kantong hamilnya nunggu beberapa minggu baru bisa dilihat. Ibu test pack dulu, kalo hasilnya positif baru kesini lagi.”
-Aahh dokter ini gimana sih. Kalo dari awal saya berani test pack mah I won’t go to this hospital in the first place-
Karena jawaban dari dokter yang tetap memaksa saya beli test pack, mampirlah saya ke apotek sepulang dari RS. Ambil dua jenis test pack, yang murah (harga lima ribu) dan yang punya iklan di TV (harga tiga puluh ribu). Googling sana googling sini ketahuan jika waktu terbaik untuk tes urin adalah ketika pagi hari setelah bangun tidur.
Keesokan paginya saya bangun subuh. Suami masih tidur dengan lelap. Lampu kamar pun belum dinyalakan. Namun adrenalin langsung terpacu ketika ingat bahwa kali ini waktunya tes urin kembali.
Tak butuh waktu lama sampai dua bungkus test pack tercelup di urin. Dan hasilnya adalah....dua strip.
Di hati tuh rasanya leegaaa bahagiaaa tapi juga deg deg an ada calon manusia di perut. Suami langsung bangun dan mendoakan si jabang bayi agar bisa berkembang dengan normal dan kuat.
Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)
terharuuuu kakaaaakk ... :'(
BalasHapusUuhhhh adeekk.. suatu saat kamu juga bakal ngrasain 😘😂
Hapus