Kimono (?)

Kyoto, Mei 2017. Bahkan beberapa bulan sebelum berangkat ke Jepang, saya sudah punya bayangan foto di Arashiyama Bamboo memakai kimono, berpose ala ala dengan suami yang memakai kimono versi pria. Saya juga sudah browsing dan sudah aware dengan harga sewanya yang lumayan mahal. Demiiiiiii...

Sesuai dengan plan, hari kedua di Jepang kami mengagendakan ke Arshiyama Bamboo Forest di Kyoto, padahal apartemen AirBnB kami ada di Osaka. Untungnya kami memakai JR Pass sehingga perjalanan Osaka-Kyoto bisa ditempuh dengan Kereta Haruka Express hanya 30-45 menit. Kalo ngga pake yang express bisa 1jam lebih karena kereta berhenti di setiap stasiun. Dan sesuai dengan angan angan sejak sebelum berangkat, kami langsung menuju ke persewaan kimono terdekat. Tanpa butuh waktu lama kami langsung memilih baju yang kami inginkan. Saya berhasil membujuk rayu suami untuk mengenakan kimono yang senada dengan saya, alasan saya demi merayakan first wedding anniversary. Sedangkan mama akan memakai baju kimono sendiri karena abi bersikeras ngga mau memakai kimono dengan alasan isyiiinnn.

Step memilih baju sudah selesai, saatnya kami pindah ke lantai atas untuk memakai lapis demi lapis baju kimono. Lapis pertama adalah kain putih sepanjang bawah lutut. Dilanjutkan dengan pemakaian obi putih. Mama saya dengan bahasa seadanya berkomunikasi dengan petugasnya. “Baby, baby, 5 bulan” sambil menunjuk perut saya dan memberi tanda angka 5. Maklum calon nenek baru jadi mama bahagia memberitahukan ke semua orang bahwa saya sedang hamil. Si petugas pun tiba-tiba menghentikan pekerjaannya merapatkan obi putih saya. Dengan bahasa inggris seadanya petugasnya pun mengulangi kata-katanya “Baby??? No baby!!” sambil menyilangkan tangannya membentuk huruf X.

Saya pun bingung maksutnya seperti apa. Akhirnya petugas itu membawa bosnya dan menerangkan kepada saya bahwa ibu hamil dilarang memakai kimono karena ikatan obi harus sangat ketat agar kimono tidak terjatuh dan itu membahayakan bayi saya. Saya yang patah hati berusaha melakukan nego agar ikatan di obi tidak terlalu keras sehingga saya bisa tetep memakainya. Selain itu jika saya tidak menggunakan kimono maka suami saya juga cancel menggunakan kimono. Dan sesuai dugaan orang Jepang yang terkenal disipin terhadap peraturan sama sekali ngga mau menurunkan standarnya. No kimono for pregnant mother. Aarrghhh hancur hati saya.

Jadilah lapisan pertama kimono yang sudah saya pakai harus dilepas lagi dan kembali menggunakan baju rakyat jelata hikss. Sedangkan mama suda kepalang kadung sehingga mama tetap melanjutkan menggunakan kimono meskipun setengah hati. Menjadi “aneh” tapi berbanyakan lebih menyenangkan daripada menjadi “aneh” sendirian.

Suami yang sebenarnya sudah berpakaian kimono lengkap pun akhirnya harus melepas kembali baju sewanya. Sayang sekali suami ngga mau berfoto saat memakai kimono lengkapnya. Huhuhuu.

Jujur saja mood saat itu langsung drop, tapi setelah berjalan jalan ke Arashiyama mood kembali naik dan inilah hasilnya. Mama sok kenal dengan turis yang pakai kimono dan langsung diajak foto kwkwkwkk. Ngga perlu dijelasin kan mamaku yang mana hehehee..

Sedikit saran bagi yang ingin jalan-jalan ke Jepang, cobalah untuk merasakan sensasi berpaiakan kimono lengkap dengan sandal gempiyak ala Jepang dan payungnya. Untuk lokasi saya sarankan pilih sewa kimono di Fushimi Inari karena tempatnya lebih cantiikk..

Selamat jalan jalan..














1 komentar: